Indonesia juga Bisa seperti Jeju!

jeju

Pulau jeju adalah pulau terbesar yang dimiliki oleh Korea Selatan. Pulau Jeju atau Cheju terletak di sebelah selatan semenanjung Korea. Selain Pulau ini adalah pulau terbesar di Korea Selatan, pulau Jeju juga punya gunung Halla. Gunung Halla adalah gunung yang tertinggi di Korea Selatan.

Pulau tersebut adalah pulau cantik, indah, mempesona, bersih, bersuhu hangat  sehingga sering digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar serial drama. Diantaranya ada Boys Before Flowers, Princess Hours,  Secret Garden dan masih banyak lagi yang lainya.

Pulau Jeju yang pada masa sejarah kuno Korea merupakan tempat pembuangan, seperti dialami tabib wanita Janggeum, dulunya merupakan pulau yang tidak senyaman sekarang. Pulau yang seluruhnya berpermukaan kasar dari batu basal ini pada awalnya merupakan pulau yang kering. Hujan yang sebenarnya cukup intensif turun di Jeju dibandingkan Korea daratan, meresap langsung ke dalam batu basal yang sangat berporipori. Air hujan itu meresap jauh ke dalam tubuh batuan Pulau Jeju. Sungai-sungai yang berdasar batu basal, sama sekali tidak berair. Kehidupan keras yang digambarkan oleh wanita-wanita Haenyeo merupakan gambaran Jeju di masa silam yang suram. Pulau yang sempat diserbu pasukan Jengis Khan dan memperkenalkan kuda hingga sekarang itu, tidak layak juga untuk pertanian karena permukaannya yang berbatu-batu.

Namun, Bumi memang terus berputar, terus berubah. Tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Seperti halnya Australia atau Bandung yang awalnya tidak disukai dan dijadikan tempat pembuangan, juga Jeju yang kemudian menjelma di zaman modern jadi Taman Bumi yang tertata luar biasa. Alamnya yang lestari terjaga dan mendapat ganjaran pusaka dan cagar biosfer dunia, tidak mencerminkan sebagai tempat pembuangan seperti terjadi di zaman dulu. Pulau Jeju yang mempunyai luas 1.849 km2 (sepertiga luas Pulau Bali yang atau setengah luas Cekungan Bandung).

Kunci kesuksesan itu secara sekilas adalah manajemen pulau yang tercerminkan dari kesejahteraan yang didapat dari masyarakatnya. Kota, permukiman, infra-struktur dan jalan-jalannya rapi dan mulus. Fasilitas kota terpenuhi, baik energi, air bersih maupun pengeloaan air limbah dan sampah. Dengan harga BBM sekitar Rp 20.000/liter, mobil-mobil buatan Korea sendiri (tidak dijumpai merek-merek Jepang) berseliweran, tetapi tidak ditemui kemacetan sama sekali. Fasilitas transportasi umum berupa bus dan taksi tersedia dengan baik. Wisata alamnya terurus baik, beberapa bahkan tidak dipungut karcis. Jalur geotrail dengan tangga kayu atau batu tertata rapi, dan tidak ada sampah berserakan seperti di lokasi-lokasi wisata Indonesia termasuk di kotanya bahkan di pasar tradisionalnya sekalipun! Herannya, pengelola jarang menyediakan tempat sampah. Rupanya terdapat kesadaran masyarakat Jeju sendiri untuk membawa kembali sampah ke rumahnya.

Fakta itu seharusnya menjadi tantangan bagi pengelolaan taman bumi di Indonesia. Jangan tanyakan potensi keragaman bumi, hayati, atau budaya Indonesia sebagai pendukung taman bumi, semuanya tidak kalah dengan Jeju. Namun, tanyakan bagaimana hal yang kelihatan sepele tetapi susah sekali diselesaikan: sampah. Kami yakin jika perubahan mental masyarakat kita dalam hal membuang sampah tersadarkan, urusan lain dalam pengelolaan taman bumi, atau destinasi wisata lain, atau di perkotaan sekalipun niscaya akan terselesaikan dengan baik. Itulah tantangan yang mestinya dapat terjawab secara optimis. Indonesia juga bisa seperti Jeju!

You May Also Like